Apakah kamu sedang merasa khawatir soal keuangan akhir-akhir ini?
Ya, perasaan itu wajar muncul.
Apalagi, saat saya menulis ini, kondisi ekonomi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.
PHK bisa saja terjadi.
Kebangkrutan bisa juga terjadi.
Atau, bisa saja ada kondisi keuangan lain yang sedang kamu hadapi, yang pada akhirnya membuat kamu khawatir.
Situasi ekonomi dunia sangat mungkin berpengaruh ke tempat kita bekerja dan ke tempat usaha kita, dan pada akhirnya ke keluarga kita.
Perasaan khawatir memang respons alami ketika kita menghadapi ketidakpastian, menghadapi apa yang tidak kita tahu di depan.
Namun, jika muncul rasa khawatir berlebih, kita tidak boleh berdiam diri, pasrah menerima dan tenggelam dalam perasaan itu.
Kenapa Kita Khawatir Berlebih Soal Keuangan?
Hal yang membuat kita khawatir berlebih soal keuangan adalah karena kita kerap mengasosiasikannya dengan rasa aman.
Jadi, kita sering berpikir, hidup kita akan aman besok saat ada uang.
Kita berpikir, hidup kita akan aman lima tahun ke depan saat ada uang dengan jumlah yang cukup untuk lima tahun ke depan.
Kita merasa aman akan terbebas dari penyakit ketika kita memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya rumah sakit ternama.
Kita merasa aman pada saat masa tua ketika kita memiliki dana pensiun yang cukup.
Saat tidak uang, rasa aman itu hilang.
Rasa aman akan digantikan rasa khawatir.
Bahkan lebih parah, rasa khawatir berlebih.
Menggeser Sumber Rasa Aman Kita Kepada Tuhan
Pada akhirnya kita sering lupa, sumber rasa aman yang sebenarnya bukan uang, tapi Tuhan.
Untuk bisa memahami ini, kita perlu membaca apa yang Tuhan Yesus katakan mengenai pemeliharaan hidup.
“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” Matius 6:26 TB
Firman tersebut dikatakan Tuhan Yesus saat sedang berkhotbah di bukit.
Sebelumnya, Dia memperingatkan kita mengenai bahaya dari penyembahan berhala modern, yaitu uang.
Lalu, di ayat ini, dia mengingatkan mengenai pemeliharaan dari Tuhan.
Jadi, jika burung saja dipelihara, apalagi kita?
Begitu kira-kira pesan penting dari firman tersebut.
Ya, burung-burung di udara tidak memiliki perencanaan keuangan, tidak punya tabungan operasional, apalagi dana darurat.
Namun, mereka tidak pernah kelaparan karena ada Tuhan yang memelihara mereka setiap hari.
Tuhan lebih besar dari apa pun.
Dia lebih besar dari kekhawatiran kita akan hari besok karena tidak ada cukup uang.
Dia lebih besar dari segala pergumulan kita.
Segala sesuatu mungkin bagi Dia.
Karena itu, mari mulai menggeser sumber aman kita dari uang kepada Tuhan.
Ketika kita khawatir berlebih, sebenarnya kita sedang meragukan kemampuan Tuhan untuk memelihara.
Daripada khawatir, akan lebih baik jika kita mengubahnya menjadi doa kepada Tuhan.
Kita bisa berbicara kepada-Nya, menyampaikan kebutuhan kita secara spesifik, yang mana tidak bermaksud untuk mendikte, namun untuk bersikap berserah.
Perubahan yang Bisa Terjadi Setelah Kita Menggeser Sumber Rasa Aman ke Tuhan
Saat sudah menggeser fokus sumber rasa aman kita, dari uang kepada Tuhan, pelan-pelan kita akan menjadi pribadi yang sadar dan bersyukur.
Sadar itu dalam artian, kita mulai bisa melihat apa yang masih ada.
Mungkin bersama kita sekarang masih ada keluarga yang suportif atau bahkan ada sepiring nasi yang bisa dimakan hari ini.
Atau mungkin, kita masih bisa bangun pagi dalam kondisi yang sehat secara fisik.
Itu adalah bukti pemeliharaan-Nya yang nyata.
Bersyukur atas pemeliharaan Tuhan bisa menjadi salah satu obat penawar untuk kekhawatiran.
Namun tentu saja, saat kita fokus pada Tuhan, bukan berarti kita menjadi pasif atau malas.
Kitab Amsal 10:4 mengingatkan dengan keras bahwa “tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan yang rajin mendatangkan kekayaan.”
Hikmat Tuhan tidak pernah memelihara kemalasan.
Karena itu, kita tetap harus bekerja keras, mengelola keuangan dengan bijak, dan mencari peluang.
Saat kita mulai memiliki lagi penghasilan yang stabil, kita bisa mulai membangun prioritas keuangan, mulai dari dana darurat, proteksi kesehatan, hingga dana pensiun.
Namun, setelah kita melakukan yang terbaik yang kita bisa, hasilnya adalah urusan Tuhan.
Di sinilah kita mengamini bagian lain dari kitab Amsal 10:22, bahwa pada akhirnya “berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak menambahinya.”
Kerja keras adalah tanggung jawab kita, tetapi hasil akhir tetap berada di bawah kedaulatan-Nya.
Yang paling penting, kita selalu mengingat, keamanan kita tidak terletak pada hasil kerja keras kita, tetapi pada kesetiaan-Nya.

Leave a Reply