Butuh Kerendahan Hati agar Kita Bisa Dibentuk Tuhan

Langkah berikutnya menjadi seorang percaya, setelah menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat dan Tuhan, adalah dengan mau dibentuk oleh-Nya.

Setelah dibentuk oleh-Nya, kita akan menjadi pribadi yang berbeda ketika berhadapan dengan sesama.

Kita akan menjadikan kasih yang diajarkan Yesus sebagai pedoman utama, baik dalam menjalin hubungan dengan teman, pasangan, orang tua, keluarga, atau bahkan dalam pekerjaan.

Itu adalah gambaran ideal yang seharusnya memang kita lakukan sebagai orang percaya.

Namun sayangnya, seringkali kita tidak memiliki kerendahan hati.

Sehingga hasilnya, semua firman Tuhan yang kita dengar tidak benar-benar melekat dalam hati dan pikiran kita, tidak menjadi kompas hidup kita.

Kenapa Secara Tidak Sadar Kita Tidak Rendah Hati?

Lawan dari rendah hati adalah kesombongan.

Sumber dari sifat ini bermacam-macam.

Namun seringnya, karena kita sudah hidup sekian tahun dan sudah melewati berbagai macam masalah, kita merasa mandiri, bisa melewatinya karena kemampuan sendiri.

Kesombongan lahir dari keyakinan keliru bahwa manusia mampu mengatur hidupnya sendiri, mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya, dan tidak membutuhkan campur tangan Ilahi.

Selain itu, kesombongan juga kerap kali hadir ketika kita merasa terbiasa berhasil karena kecerdasan, kekayaan, atau usaha sendiri.

Hal tersebut bisa mematikan kesadaran bahwa napas dan kekuatan yang kita miliki adalah murni anugerah dari Tuhan.

Karena kesombongan itu, kita sudah lebih dulu membentengi diri dari firman Tuhan yang akan kita dengar, baca, dan terima.

Semua firman itu, akhirnya hanya menjadi informasi biasa saja bagi otak dan hati kita.

Kita menjadi gelas yang sudah berisi air, yang tidak akan lagi menerima air baru yang lebih segar dan murni.

Kita menjadi material yang keras, yang sulit dibentuk.

Bukan menjadi seperti tanah liat basah yang siap dibentuk menjadi bejana yang indah.

Kita Harus Rendah Hati agar Bisa Dibentuk Tuhan

“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.” (Yesaya 64:8 TB)

Ayat itu menegaskan kedaulatan Allah sebagai Pencipta dan Bapa, serta penyerahan total manusia sebagai ciptaan.

Gambaran tanah liat pada ayat tersebut menunjukkan kerendahan hati dan penyerahan diri.

Manusia tidak bisa membentuk dirinya sendiri sesuai keinginan Tuhan tanpa campur tangan Sang Pencipta.

Jadi, begitu menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, langkah berikutnya yang harus kita lakukan, adalah dengan sengaja mengosongkan gelas hati dan pikiran kita di hadapan-Nya.

Kita harus belajar menanggalkan segala kebanggaan diri, rasa paling tahu, dan kemandirian palsu.

Seberapa hebat pun pencapaianmu dalam ukuran duniawi, kita tetaplah ciptaan-Nya yang sangat membutuhkan tuntunan-Nya.

Namun tentu saja, menjadi rendah hati bukan berarti kita merasa diri kita tidak berharga lagi, atau bahkan malah membenci diri sendiri.

Rendah hati adalah soal berani untuk jujur bahwa kita memiliki keterbatasan dan kelemahan.

Melalui keterbatasan dan kelemahan itulah, Tuhan bekerja.

Menjadi Rendah Hati Setiap Harinya

1. Memulai dan Menutup Hari dengan Berdoa

Berdoa bukan cuma menjadi cara bagi kita berbicara dengan Tuhan secara pribadi.

Lebih dari itu, berdoa juga menjadi bukti, bahwa kita membutuhkan Tuhan setiap harinya.

Berdoa adalah salah satu bentuk penyerahan diri kita kepada-Nya.

Jadi, ketika memulai berdoa, jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih atas berbagai macam berkat yang diterima dan atas penyertaan-Nya.

Ucapkan juga bahwa kita tidak bisa apa-apa tanpa hadirat-Nya.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5 TB)

2. Memulai Hari dengan Membaca Firman Tuhan dan Renungan

Begitu bangun tidur, setelah berdoa, kita bisa melanjutkan dengan membaca firman dan membaca renungan.

Firman dan renungan itu adalah salah satu cara Tuhan berkata kepada kita.

Tanpa perkataan-Nya, kita akan menjadi pribadi yang kebingungan akan misi apa yang harus kita lakukan hari ini.

Kita tidak akan memiliki kompas hidup tanpa membaca firman Tuhan.

Favorit saya pribadi, saya membaca firman Tuhan dan renungan melalui aplikasi Bible dari YouVersion.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105 TB)

3. Tetap Meninggikan Tuhan

Mungkin hari ini kamu akan mendapatkan pencapaian atau prestasi.

Perasaan bahagia tentu akan menyelimuti ketika kita mendapatkan hal tersebut.

Namun, jangan sampai perasaan bahagia itu malah membuat kita akhirnya menyombongkan diri bahwa pencapaian itu adalah karena usaha dan kerja keras kita semata.

Sebaliknya, saat mendapatkan pencapaian atau prestasi, cobalah untuk tetap meninggikan Tuhan.

Tanpa Tuhan, kita tidak akan bisa mendapatkan pencapaian atau prestasi itu.

“Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah orang bijak bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena ia memahami dan mengenal Aku…’” (Yeremia 9:23-24 TB)

Baca artikel lainnya: Untukmu yang Sedang Khawatir Soal Keuangan dan Masa Depan


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *